Beberapa waktu yang lalu aku nemuin sebuah artikel bagus di buku Ensiklopedia Jakarta 5. Artikel itu ngebahas tentang makanan dan minuman khas ibukota. Dan mataku langsung tertumbuk ke kata “bir pletok”. Sebuah minuman yang familiar kudengar tapi gak pernah ngerti bentuk minumannya gimana. Ada yang bilang sih kalo itu bir yang gak memabukkan, tapi tetep gak kebayang. Dan akhirnya rasa penasaran yang cukup lama aku pendam itu terjawab sudah.
Bir pletok merupakan minuman khas orang betawi. Minuman ini sering disajikan waktu pesta-pesta. Minuman ini gak ada alkoholnya sama sekali!! Minuman ini justru menyegarkan, soalnya dibuat dari rempah-rempah. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, jahe yang dipake adalah jahe gajah yang udah tua. Kalo warnanya yang merah didapet dari kulit secang. Bisa juga sih pake jahe merah, tapi rasanya jadi lebih pedas.
Kenapa dinamain bir pletok? Ternyata ada sejarahnya! Jadi dulu nama ini muncul dari kalangan orang Betawi gedongan yang sering bergaul ama orang Belanda. Ketika orang-orang Belanda mengocok minuman berbahan dasar jahe itu, dan menuangkannya ke dalam gelas, muncullah busa di bagian atas gelas, persis kayak orang lagi nuang bir. Gara-gara itu disebutlah minumanĀ itu sebagai bir.
Terus kata pletok juga ada sejarahnya. Kata ini muncul waktu “bir(jahe)” itu di campur pake es, terus dimasukin ke dalam tempat yang mirip botol dan dikocok. Nah waktu dikocok itu, kedengaran suara “pletak-pletok”. gara-gara suara itu, akhirnya “bir” itu namanya bertambah, jadi “bir pletok“.
Wah ternyata Indonesia punya minuman “bir” juga ya!